Telp: +62 274 374 627
Follow Us :
KEBAHAGIAAN, DI MANAKAH KAU? - SMKN 2 Kasihan - Sekolah Menengah Musik

KEBAHAGIAAN, DI MANAKAH KAU?

Sekolah Menengah Musik

KEBAHAGIAAN, DI MANAKAH KAU?

  • 10 April 2018
  • Oleh : Agus Suranto, SPd, M.Sn
  • Dibaca : 332 kali

Einstein mengatakan bahwa di manapun perputaran waktu adalah sama. Di berbagai tempat di seluruh jagad raya ini, perputaran waktu tidak berubah. Namun karena manusia sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di sekitar dirinya, maka berakibat   waktu menjadi berbeda.  Seseorang yang sedang jatuh cinta, mengobrol selama delapan jam katanya terasa baru lima menit. Sebaliknya, Seseorang yang berdiri di depan tungku api yang panas, baru lima menit katanya terasa berjam-jam. Demikian pula dalam kehidupan manusia. Demikian halnya dengan kebahagiaan.

 

Manusia ditakdirkan untuk menjalani kehidupan  dengan baik. Terkadang terasa mudah, terkadang pula sulit. Ketika ada banyak pilihan, orang bingung memilih. Ketika hanya satu pilihan, bingung tak punya pilihan lain. Demikianlah hidup penuh misteri, penuh tantangan, membuat penasaran, membuat orang lebih suka berlama-lama merenungkan hidup. Hidup bukan sekedar persoalan makan dan melanjutkan keturunan semata. Hidup juga bukan sekedar menghirup oksigen dari alam. Hidup adalah proses menapaki waktu, yang di dalamnya bisa berisi apa saja. Isi kehidupan terlalu banyak untuk disebutkan dan  dituliskan, jika hanya bertujuan untuk memenuhi kepuasan.  Dunia ini (tentu saja) terlalu kecil untuk memenuhi kepuasan manusia, karena rasa kurang puas akan datang terus-menerus.

 

Sesungguhnya sulit menjawab apa yang menjadi tujuan penting dalam hidup manusia. Di tengah pengaruh iklan dan media yang menawarkan kenikmatan hidup, sulit untuk melihat apa yang sungguh-sungguh penting dalam hidup ini. Terkadang cantik, cerdas dan kaya itu penting.   Lalu,  apakah kecerdasan, kecantikan dan kekayaan itu menjadi tujuan tertinggi hidup manusia?  Lalu bagaimana mengukur tingkat kebahagiaan seseorang?

Kebahagiaan diartikan sebagai kesenangadan ketenteraman hidup secara lahir batin. Hasil riset menunjukkan bahwa orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin, meski ada pula orang kaya tidak bahagia dan orang miskin cukup bahagia.  Jadi orang miskin tak selalu menderita, dan orang kaya tak selalu bahagia. Orang miskin tak selalu berkorelasi dengan menderita, dan orang kaya juga sama sekali tak berkorelasi dengan bahagia.

 

Bagaimana dengan orang kaya yang tampaknya bahagia, namun ia merasa menderita? Bagaimana orang miskin yang tampak menderita, namun ia merasa bahagia? Pandangan orang lain ternyata bisa menjebak, karena menggunakan aspek fisik (yang dapat diamati) sebagai alat ukurnya, misalnya  menakar kebahagiaan orang lain melalui menu makan yang dikonsumsi, kendaraan yang digunakan, rumah tempat ia tinggal, uang yang ia punya, teman bergaulnya, gaya hidupnya, dan sebagainya. Menurut Aristoteles  bahwa bukan nikmat yang harus kita kejar, melainkan kita harus mengejar perbuatan-perbuatan yang bermakna. Dengan mengejar perbuatan yang bermakna, nikmat akan  mengikuti dengan sendirinya. Dengan demikian kita pun dapat  menikmati hidup.  Kebahagiaan sejati hanya dapat  dilihat oleh diri sendiri, tak tampak dari luar. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan ditentukan oleh harta yang dimilikinya. Aristoteles menambahkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari batin yang telah dididik. Oleh karena itu pendidikan batin pun sebisa mungkin dimulai sejak dini. Pendidikan yang baik tidak membiarkan seseorang  berkembang “sesuai seleranya sendiri”, tetapi perlu dibuka dimensi hati agar seseorang merasa bangga dan gembira apabila ia berbuat baik, sedih dan  malu apabila melakukan sesuatu yang buruk. Melalui perasaan-perasaan itu seseorang, tanpa paksaan, belajar berbuat baik dengan gampang dan menolak dengan sendirinya yang jelek atau memalukan. 

 

Salah satu kendaraan yang dapat digunakan untuk mencapai kebahagiaan adalah berbuat untuk orang lain. Berbuat ini pada intinya sebagai upaya memberi, yang bentuknya dapat bermacam-macam. Beberapa bentuk  memberi di antaranya adalah bersikap baik kepada orang lain, menolong orang lain, memberi perhatian kepada orang lain, memberi empati kepada orang lain, memberi kabar baik kepada orang lain, dan sebagainya. Memberi sesuatu kepada orang lain tidak menuntut persyaratan tertentu, misalnya harus kaya, kebutuhan sendiri harus terpenuhi terlebih dahulu, memberi jika diminta, memberi jika kenal dengan orang yang diberi, dan lain-lain. Justru satu-satunya syarat mendapatkan kebahagiaan sejati adalah memberi, berbagi, dan tak harap kembali.

 

Kontak Kami
  • Alamat: Jl. PG. Madukismo, Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta
  • Telp: +6274 - 374627
  • Email: sekolahmusik@gmail.com
Link Penting
Artikel Update
Copyright © 2018 SMK N 2 Kasihan, Powered By Jogdas, Customized By Aba Al Ghozali