Telp: +62 274 374 627
SERANGAN OEMOEM - SO 1 MARET 1949 - SMKN 2 Kasihan - Sekolah Menengah Musik

SERANGAN OEMOEM - SO 1 MARET 1949

Sekolah Menengah Musik

SERANGAN OEMOEM - SO 1 MARET 1949

  • 28 Februari 2018
  • Oleh : Agus Suranto, S.Pd, M.Sn
  • Dibaca : 606 kali

Peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret berawal dari pendudukan Belanda atas ibukota RI di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 yang  menawan para pemimpin RI. Setelah menguasai ibukota RI Yogyakarta, Belanda menyebar kabar bohong bahwa RI telah punah. Rakyat tidak percaya akan tipu muslihat pemerintah Belanda. Pada saat itu hampir semua penduduk Yogyakarta menolak kerja sama dengan Belanda.

Belanda mengetahui kunci untuk membuka kerja sama dengan penduduk Yogyakarta adalah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Sri Sultan HB IX ditawari Belanda kedudukan Wali Negara bila mau bekerja sama dengan Belanda. Sultan menolak dengan tegas, bahkan ketika Jenderal Spoor, Panglima tentara Belanda di Indonesia, datang sendiri menghadap kepadanya, hanya ditemui selama sepuluh menit. Itupun Sultan membatasi pembicaraan, yakni hanya tentang keberangkatan serdadu Belanda dari Yogyakarta.

Simpati Meluas

Sementara Perhimpunan Buruh dan Pers mulai kritis. Mereka mengingatkan langkah tidak bijaksana : Bila di Barat, Sekutu mati-matian mempertahankan kemerdekaan, sementara di Asia mempertahankan penjajahan. Akibatnya suara simpati kepada RI mulai meluas di kalangan Kongres, baik dari Demokrat maupun Republik. Kemudian beberapa senator dari kalangan Republik pada tanggal 7 Februari 1949 menyerukan agar AS menghentikan segala bantuan kepada Belanda sampai negeri itu menghentikan permusuhannya terhadap RI serta melaksanakan resolusi PBB.

Walaupun berbagai pihak mendesak Belanda agar mematuhi resolusi PBB, tetapi Belanda tidak segera mau menerima. Sementara itu, Sri Sultan HB IX  lewat radio Australia bisa menangkap berita bahwa DK PBB akan mengadakan sidang dalam bulan Maret untuk membahas perkembangan di Indonesia. Sri Sultan berpikir apakah yang dapat diperbuat untuk mempengaruhi jalannya sidang tersebut?  Yang penting, bagaimana pihak Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa RI masih ada dan TNI masih kuat.

Sri Sultan minta kepada Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk menyerbu Belanda di Yogyakarta. Jenderal Sudirman menyarankan agar rencana serangan itu dirundingkan dengan Komandan TNI setempat. Untuk itu, Sri Sultan menghubungi Letkol Suharto. Dengan berpakaian Jawa lengkap, Letkol Suharto menghadap Sultan ke Keraton. Setelah mempelajari secara masak, Sri Sultan dan Letkol Suharto sepakat akan melancarkan serangan umum secara besar-besaran di Yogyakarta. Sri Sultan minta agar serangan tersebut dilakukan dari arah selatan agar Keraton tidak rusak. Serangan umum dilakukan pada tanggal 1 Maret 1949 siang hari. Serangan umum tersebut dapat dilaksanakan dengan memuaskan. Kota Yogyakarta dapat diduduki selama 6 jam.

RI Tetap Tegak

SO 1 Maret 1949   merupakan kebanggaan luar biasa, sebab membuktikan bahwa RI tetap tegak. TNI berhasil eksis, meningkatkan semangat juang dan keyakinan rakyat. Di samping itu, AS yakin akan kebenaran RI. Sehingga dengan tegas menekan Belanda agar segera melaksanakan resolusi PBB. Akibatnya posisi Belanda semakin terjepit dan menerima resolusi PBB, dan segera melaksanakan perundingan dengan pihak RI. Hasil perundingan menyatakan  bahwa Belanda harus meninggalkan Indonesia dan pemerintah RI harus dikembalikan.

(Dikutip dari: Harian Kedaulatan Rakyat, 28 Februari 2018 hal. 11)

Kontak Kami
  • Alamat: Jl. PG. Madukismo, Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta
  • Telp: +6274 - 374627
  • Email: sekolahmusik@gmail.com
Link Penting
Artikel Update
Copyright © 2018 SMK N 2 Kasihan, Powered By Jogdas, Customized By Aba Al Ghozali