Telp: +62 274 374 627
Follow Us :
PERAN GURU DAN MEDIA MASSA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA - SMKN 2 Kasihan - Sekolah Menengah Musik

PERAN GURU DAN MEDIA MASSA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Sekolah Menengah Musik

  • Home
  • Artikel
  • PERAN GURU DAN MEDIA MASSA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

PERAN GURU DAN MEDIA MASSA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

  • 14 Januari 2017
  • Oleh : Agus Suranto, S.Pd, M.Sn
  • Dibaca : 1946 kali

Masa depan bangsa Indonesia sangat bergantung di pundak generasi muda. Jika generasi mudanya kuat,  Indonesia akan menjadi bangsa yang hebat. Jika generasi mudanya tangguh, Indonesia akan menjadi bangsa yang ampuh. Namun sebaliknya  apabila genersi mudanya rapuh, maka tinggal menunggu waktu bahwa bangsa lambat laun akan runtuh. Sejenak melihat “apa yang salah terhadap bangsa ini?” sebagai berikut:

  1. Kondisi moral/akhlak generasi muda yang rusak/hancur. Hal  ini ditandai dengan maraknya seks bebas di kalangan remaja (generasi muda), peredaran narkoba di kalangan remaja, tawuran pelajar, peredaran foto dan video porno pada kalangan pelajar, dan sebagainya.
  2. Pengangguran terdidik yang mengkhawatirkan
  3. Rusaknya moral bangsa dan menjadi akut (korupsi, asusila, kejahatan, tindakan kriminal pada semua sektor pembangunan, dan lain-lain).
  4. Bencana yang sering/terus berulang dialami oleh bangsa Indonesia (dapat diduga sebagai azab atau lemahnya  bangsa ini dalam memecahkan masalah lingkungan seperti banjir, longsor, kebakaran).
  5. Kemiskinan yang mencapai angka 40 juta dan terus bertambah
  6. Daya kompetitif yang rendah, sehingga banyak produk dalam negeri dan sumber daya manusia yang tergantikan oleh produk dan sumber daya manusia dari negeri tetangga atau luar negeri.
  7. In-efisiensi pembiayaan pendidikan.

(Kesuma dkk, 2011: 2 – 4)

 

Paparan di atas menunjukkan bahwa faktor manusia merupakan penyumbang terbesar. Bahkan, bencana alampun sesungguhnya sebagai akibat dari ulah manusia.

 

Karakter seseorang sangat mempengaruhi bagaimana dirinya mengambil keputusan dalam situasi-situasi tertentu. Menurut Megawangi (2004:95), Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya”. Pendidikan karakter disebut juga sebagai proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang, sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Jadi karakter merupakan titik tolak dalam pengambilan keputusan. Dalam lingkup sekolah, bisa jadi masih dapat dijumpai perbuatan anti sosial seperti membolos, berbohong, malas belajar, melanggar aturan dan disiplin, merusak barang, melawan orang tua, mencuri, mengancam, suka berkelahi dan sebagainya.

Sebagai upaya mempersiapkan generasi muda yang tangguh, ulet, berkepribadian serta pantang

menyerah, maka peran guru sebagai pendidik tidak dapat dikesampingkan. Sekolah (satuan pendidikan) sebagai tempat belajar, berinteraksi, serta bersosialisasi para generasi muda penerus bangsa, adalah ibarat “Kawah Candradimuka”  untuk menempa, menggembleng, serta menggodoknya. Pembelajaran berbasis kompetensi yang berlaku sebelumnya, memang berdampak terhadap para siswa, sehingga tampak bahwa anak-anak  muda Indonesia  unggul dalam pengetahuan, namun lemah dalam karakter/perilaku. Oleh karena itu, dalam Kegiatan Belajar mengajar (KBM) maupun di luar ruang pembelajaran, guru harus benar-benar memfokuskan diri pada karakter yang harus dimiliki siswa. Bahkan di era global yang penuh tantangan, penuh kompetisi, dan sekaligus penuh ancaman saat ini, guru harus menjadi garda depan dalam membangun karakter anak bangsa. Hal ini sesuai dengan sebutan “pendidik”. Amanat mendidik ini meliputi berbagai sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter Indonesia, karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu penanaman karakter berarti pula penanaman nilai-nilai yang telah terkandung dalam Pancasila, singkatnya untuk mempersiapkan generasi muda yang berpancasilais.

Sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.  Dengan demikian rumusan ini menjadi acuan dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa.

Ada bermacam karakter sebagai cerminan generasi muda Indonesia, yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Lalu bagaimana guru berperan dalam pembentukan karakter anak bangsa? Tersebut dalam Undang-undang Sistem pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Pasal 4 (ayat 3), “Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat’. Diperkuat lagi pada ayat 4, berbunyi “ Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran”. Kutipan di atas semakin menambah kejelasan peran guru dalam konteks pendidikan. Guru sebagai pencetak karakter anak bangsa, berperan amat penting dalam memberikan pembiasaan-pembiasaan sesuai karakter yang diharapkan. Sebagai prasyarat, guru harus terlebih dahulu mengantongi bekal karakter yang siap untuk diteladankan kepada peserta didik. Mengutip pendapat Wibowo dan Hamrin (2012:vi) bahwa “sosok guru mengambil peran penting. Guru harus menjadi tauladan bagi anak didiknya. Entah perilaku, tutur kata, maupun tabiat keseharian guru, harus menjadi suri tauladan yang akan diikuti oleh anak-anak di sekola”..

Melalui keteladanan guru diyakini sangat efektif  dalam membangun karakter siswa. Sebaliknya, proses pencapaian karakter siswa menjadi terkendala apabila guru hanya memberikan materi karakter sebatas teori semata. Pihak sekolah tentu saja bertanggungjawab menciptakan iklim yang kondusif di lingkungan sekolah. Kepedulian antar anggota masyarakat sekolah amat diperlukan, agar tidak terjadi kebocoran-kebocoran. Sifat pembiaran dan ketidak pedulian guru dalam mengawal pertumbuhan karakter siswa  tersebut, berpotensi menghambat. Oleh karena itu, faktor  pembiasaan, keteladanan, kepedulian serta iklim yang kondusif  dalam hal ini menjadi harapan besar akan tercapainya pendidikan karakter.

Disadari atau tidak bahwa jaman terus bergerak. Pesatnya kemajuan ini salah satunya ditandai dengan bergantungnya masyarakat terhadap media. Faktor media ini juga memegang peranan penting dalam pendidikan karakter bagi masyarakat. Media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima. Media meliputi media cetak dan media elektronik. Dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, tersirat bahwa media menjadi unsur penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis. Peran kontrol sosial dari media mampu mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan, sebagai buah dari karakter yang buruk.  Oleh karena itu,   media dapat memberikan  asupan-asupan materi yang bergizi alias benar-benar ada manfaatnya bagi perkembangan karakter. Indonesia sudah lelah dengan hiburan-hiburan yang sudah terlalu berlebihan. Indonesia sudah ‘capek’ dengan merosotnya prestasi bangsa. Indonesia kian  tak sanggup melihat situasi terus dilanda krisis karakter. Oleh karena itu,media bisa menjadi kiblat bagi generasi muda, melalui menu-menu sehatnya.  

Pada akhirnya trilogy (keteladanan guru, iklim yang kondusif, dan media yang berpihak) menjadi solusi hebat, yang menjamin terselamatkannya karakter anak bangsa menuju Indonesia hebat.

Kontak Kami
  • Alamat: Jl. PG. Madukismo, Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta
  • Telp: +6274 - 374627
  • Email: sekolahmusik@gmail.com
Link Penting
Artikel Update
Copyright © 2017 SMK N 2 Kasihan, Powered By Jogdas, Customized By Aba Al Ghozali