Telp: +62 274 374 627
Follow Us :
selamat datang bulan "keramat" sura 1950 C oleh: Samsuri Nugroho - SMKN 2 Kasihan - Sekolah Menengah Musik

selamat datang bulan "keramat" sura 1950 C oleh: Samsuri Nugroho

Sekolah Menengah Musik

  • Home
  • Artikel
  • selamat datang bulan "keramat" sura 1950 C oleh: Samsuri Nugroho

selamat datang bulan "keramat" sura 1950 C oleh: Samsuri Nugroho

  • 14 Oktober 2016
  • Oleh : Samsuri Nugroho
  • Dibaca : 1510 kali

 

Selamat Datang Bulan “keramat”  Sura 1950

(tulisan dimuat di harian tribun jogja, 2 Oktober 2016)

Oleh: Samsuri Nugroho

 

Dhandhanggula Mulat Slira

 

  • Wulan sura sasi kaping siji
  • Pra manungsa padha mulatslira
  • Laku kang wis ditindakke
  • Jiwa raga winengku
  • Mring budi kelawan pakerti
  • Mumpung durung katekan
  • Kala kojuripun
  • Jejangka ing kaluhuran
  • Kita sami cumadhong rahmating Gusti
  • Suwarga kang tinampa.

         Masyarakat Jawa (baca:sebagaian) begitu mendengar ucapan kata Sura,secara spontan terbersit dalam pikiran dan perasaan adanya sesuatu yang keramat, gawat keliwat-liwat,penuh misteri. Dalam perhitungan bulan Jawa ada satu bulan yang banyak diyakini mempunyai kandungan berbeda di banding bulan lainnya yaitu bulan Sura. Bulan Sura sebagai tengara telah datangnya tahun baru Jawa/Caka yang berbasis perjalanan bulan. Senada dengan itu kalau dalam  agama islam datangnya tahun baru (Hijriyah) ditandai dengan datangnya bulan Muharram. Dasar  perhitungaan bulan Jawa ataupun tahun Hijriyah adalah sama-sama berdasar perjalanan bulan sehingga perpindahan setiap harinya tidak tengah malam tetapi waktu maghrib/petang hari bersamaan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Pada awalnya perhitungan tahun Caka menggunakan dasar perhitungan perjalanan matahari,tetapi dalam perkembangannya diteruskan oleh Sultan Agung (Mas Rangsang) berdasar bulan dengan tetap melanjutkan urutan tahun Caka (bersamaan adeging kraton Mataram 1613-1645 M).

        Masyarakat jawa sebagaian besar menempatkan bulan Sura sebagai bulan keramat. Banyak hal mistik dikaitkan dengan bulan ini. Arti kata keramat menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah: suci dan bertuah yg dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain. Betulkah bulan Sura juga mempunyai kekuatan magis yang dapat memberikan peristiwa sebab akibat antara bulan Sura dengan peristiwa yang menimpa alam atau manusia? Sangat dihindari orang Jawa punya hajatan dilaksanakan pada bulan Sura,karena diyakini akan terjadi hal-hal buruk yang menimpa keluarga. Semua itu sesungguhnya didasari keyakinan yang tanpa dasar logika,tetapi lebih didasari kepercayaan turun tumurun  tanpa suatu pembuktian.

Tuhan Maha Segalanya.

        Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama pastilah menempatkan Tuhan sebagai dzat yang Maha Adil,yang Maha Kuasa,Maha Pengasih dan Penyayang. Yang paling kuasa untuk menentukan azab kepada manusia di dunia ini adalah Tuhan. Tuhan itu Maha Esa artinya di dunia ini hanya ada satu Tuhan. Tuhan yang mengatur alam benua Amerika,Afrika,Australia adalah Tuhan yang sama, yang mengatur alam di bumi Jawa. Ketika manusia suka bekerja keras apapun agamanya di manapun ia berada baik orang Jepang, Indonesia atau Arab sekalipun pastilah akan menuai kesuksesan, begitu pula sebaliknya. Ketika orang Inggris atau orang Arab menjalani pernikahan di bulan Sura/Muharram tidak mendapat laknat,maka sesungguhnya orang Jawa pun juga tidak mendapat laknat. Kalau orang Jawa mendapat laknat gara-gara pelaksanaanya dilakukan pada bulan Sura,itu sama halnya mengatakan Tuhan tidak adil,karena memberlakukan punishment berbeda hanya berdasar etnis. Pastilah Tuhan tidak demikian.

Secara kebetulan.

        Ketika tetangga dekat atau kerabat berani menyelenggarakan hajatan di bulan Sura dan ternyata dalam keluarga pemangku hajat mendapat musibah, baik sakit atau kejadian buruk lainnya,maka masyarakat akan segera menarik kesimpulan bahwa musibah itu terjadi karena keberaniannya melanggar “etika” bulan sura. Kalau peristiwa itu ditarik dalam khasanah pemikiran modern hal seperti itu pasti tidak masuk akal. Sebagai komparasi kejadian,ada anggota masyarakat yang menggelar hajatan di luar bulan Sura,ternyata juga mendapat musibah atau kejadian buruk lainnya. Inkonsistensi pernyataan masyarakat  adalah ketika terjadi peristiwa seperti itu,masyarakat tidak segera berkata “Musibah itu terjadi karena hajatannya diselenggarakan di bulan X”. Siapa pun orangnya pada saat Tuhan berkehendak untuk mengambil nyawa,mencurahkan rejeki atau berkehendak lainnya pastilah terjadi. Baik kepada  orang jawa yang taat pada pantangan bulan Sura maupun yang berani “melawan” bulan Sura.

Memaknai simbolisme Sura.

Bulan Sura sebagai pertanda pergantian Tahun Jawa merupakan kesamaan makna dengan bulan Muharram dalam Tahun Hijriyah. Adapun Hijriyah secara etimologi diambil dari kata hijrah, yakni peristiwa pindahnya (Hijrahnya) Rasulullah  Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Dengan demikian pergantian tahun perlu dimaknai dengan niatan perpindahan dari negatif ke positif,dari hal-hal buruk menjadi baik,dari peradaban jahiliyah ke masyarakat madani, dan sebagainya. Terdengarnya kothekan lesung, tabuhan kenthongan yang diperdengarkan pada pergantian tahun Jawa dengan cara mubeng desa perlu kita maknai adanya sebuah ajakan untuk memulai melakukan hal-hal yang berguna,positif untuk mencapai kesuksesan dan kesejahteraan. Siapa yang tidak melakukan kothekan mubeng desa akan dimakan oleh Bethara Kala,kita maknai sebagai peringatan bahwa yang tidak bisa mengatur waktu (kala) maka akan dimakan oleh waktu/jaman yang terus berjalan. Tentang pantangan menggelar hajatan di bulan Sura kita maknai sebagai renungan untuk introspeksi  menatap ke depan untuk menuju perubahan yang berarti. Untuk tetap merawat keimanan,keramatnya bulan Sura kita sikapi sebagai hijrahnya dari kebodohan menuju kecemerlangan bukan sebagai bulan penuh laknat seperti yang banyak diyakini selama ini. Selamat tahun baru Jawa 1950/1438 H.

                                                                                         Bantul,    September 2016

                                                                  Penulis adalah Kepala Sekolah Seni Musik Bantul.

Kontak Kami
  • Alamat: Jl. PG. Madukismo, Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta
  • Telp: +6274 - 374627
  • Email: sekolahmusik@gmail.com
Link Penting
Artikel Update
Copyright © 2017 SMK N 2 Kasihan, Powered By Jogdas, Customized By Aba Al Ghozali